Home Serba cara • Haruskah Buzzer Produk Di Media Sosial Dikenakan Pajak?

Haruskah Buzzer Produk Di Media Sosial Dikenakan Pajak?

 - 

Manfaat jejaring sosial dapat mendatangkan rupiah dan dollar jika dikembangkan dengan baik, layaknya kehadiran buzzer produk media sosial. Buzzer pada medsos ini lahir karena pertumbuhan followers akun medsos seseorang yang pesat hingga mencapai angka ratusan ribu atau jutaan pengikut. Hal tersebut mengundang banyak perusahaan untuk ikut berpartisipasi menggunakan momen tersebut sebagai media iklan mereka. Itu menjadi cara jitu perusahaan untuk memasarkan produk mereka kepada khalayak.

Macam-macam buzzer yang sering digunakan oleh masyarakat sangat beragam seperti twitter, facebook, instagram, Linkedln, Flickr, dan lainnya. Namun yang paling terkenal memunculkan banyak buzzer adalah twitter. Itu tidak terlepas dari pengaruh orang terkenal seperti tokoh dan artis. Mereka menjadi inspirasi orang untuk bergabung dan berbagi. Hal tersebut selalu dipantau oleh perusahaan. Mereka memiliki tim khusus di bidang sosial media marketing. Dari banyaknya followers yang menghampiri medsosnya, akhirnya perusahaan memilihnya untuk bekerjasama di bidang iklan.

Mereka adalah orang yang menginspirasi dan mempengaruhi masa, kerap disebut dengan influencer atau key opinion leader yang menjadi trendsetter bagi pengikutnya. Apa yang diposting pasti akan menjadi bahan diskusi yang menarik. Tentu jika yang diposting adalah produk perusahaan, pasti ada beberapa yang tertarik dari sekian banyak pengikut.

buzzer-produk-di-media-sosial-2

Sekarang apa jadinya jika buzzer di media sosial akan dikenakan pajak. Memang ranah ini masuk kepada area Dinas Kominfo dan Periklanan. Ada isu yang beredar bahwa badan tersebut akan membantu pajak negara melalui sektor media sosial. Memang jika hal tersebut dibidik oleh pemerintah, maka akan sangat menambah pemasukan pemerintah melalui pajak. Namun kelayakan harus tetap diperhatikan. Aturan main mengenai implementasinya harus jelas dan tidak merugikan pengguna media sosial.

Wacana  pemerintah setelah sukses dengan program tax amnesty dalam menggalakkan pemasukan pajak adalah melirik media sosial khususnya buzzer untuk ikut menyumbang pajak negara. Alasannya adalah setiap pelaku usaha pasti menghasilkan pundi-pundi rupiah yang harus dikenakan pajak. Tetapi yang telah berlaku adalah pada sektor resmi atau di lapangan. Yang bekerja di dunia maya dan menghasilkan banyak rupiah melebihi dari pegawai biasa tidak dikenakan pajak dan tidak terlacak transaksinya. Akhirnya keadaan menjadi tidak seimbang, pemasukan pajak hanya pada sektor tertentu saja. Ini dipandang menguntungkan bagi negara jika medsos dibidik untuk menjadi pemasukan pajak.

Dampak dari buzzer dikenakan pajak yang berupa PPH badan dan PPN mungkin akan sangat mempengaruhi pengguna medsos. Tentu pengguna lain yang akan berjualan di media sosial akan kena pajak juga. Hasilnya, mereka harus menaikkan tarif jualannya dan harga jual juga dapat melambung. Akhirnya konsumen pun jadi terkena dampak harga yang mahal.

Akses berjualan di media sosial pasti melibatkan unsur jasa pengiriman. Artinya setiap harga jual harus ditambah dengan ongkos kirim. Jika penjual terkena beban pajak yang cukup lumayan ditambah harus mengeluarkan ongkir, pembeli akan merasa bahwa harga produk online cukup mahal. Akhirnya mereka beralih membeli di toko. Dunia media sosial pasti akan berkurang dalam hal perdagangan.

Membidik buzzer media sosial menjadi sumber pajak bagi pemasukan pendapatan negara dari sektor pajak tentu akan menghasilkan pro dan kontra khususnya bagi pelaku medsos. Ini harus benar-benar dikaji secara komprehensif oleh pemerintah agar tidak timbul ketimpangan pada saat ini diterapkan. Pemerintah dan asosiasi pengguna media sosial harus duduk bersama untuk mencari solusi yang menguntungkan keduanya sehingga aspirasi masyarakat dapat tertampung dan media sosial pun dapat dimanfaatkan tanpa terbebani.

Deskripsi: haruskah buzzer produk di media sosial dikenakan pajak sebagai media pemasukan negara dari sektor perdagangan online yang kian marak di masyarakat.

Author:webmaster